Keberhasilan Jadi “Obat” Kegagalan Bag2

Kesuksesan dan kegagalan menghadapi momen-momen pen ting dan berharga diterimanya dengan ikhlas dan bahagia. Bagi Della, menyusui adalah momen pa ling berkesan saat ia menjadi seorang ibu karena ada persepsi kuat yang tertanam bahwa ibu merupakan “sumber kehidupan” bagi anak di tahun-tahun pertama.

“ lowongan kerja di Jerman untuk lulusan SMA dengan program ausbildung di Jermansat-jakarta

“Anak yang baru saja lepas dari rahim ibu, ketergantungannya akan kehadiran, kedekatan, dan kelekatan fi siknya denganku sangat kuat. Menyusui adalah cara paling efektif untuk mengetahui bahwa seorang anak merespons kehidupan. Aku bisa tahu, mereka masih bernapas, mengonsumsi asupan, dan bergerak karena ada isapan yang ‘kuat’ sehingga meyakinkan diriku bahwa mereka optimis untuk hidup,” paparnya.

Namun, ia pun pernah sempat membuatnya merasa “capek” dan “tak berharga” menjadi ibu. Menurutnya, hal yang paling sulit diterima para mama adalah ketika anak sudah menjadi lebih besar, bukan bayi lagi, terutama usia 2–3 tahun. Pada usia ini, menurut pengamatan Della, anak-anak mulai “banyak ulah” karena merasa serbabisa. Baru saja rasanya mereka bergantung penuh pada kita, kali ini mereka mulai merasa “tidak butuh” ibunya.

Apa yang kita pilihkan dan berikan “ditolak” mentah-mentah, padahal awalnya mereka menikmati begitu saja tanpa protes yang berarti. “Saya akui, hal ini sempat membuat saya frustrasi dan marah karena mereka tampil lebih agresif dan menampilkan ekspresi ‘menyebalkan’. Tanpa disadari kita jadi selalu naik darah dan lupa bahwa mereka hanya makhluk kecil yang sedang ‘menguji coba’ keterampilanketerampilan sosi al yang baru saja dikuasai lewat proses meniru.

Beruntung ada ilmu pengetahuan tentang pengasuhan anak di usia dini yang dikemas dalam buku Si Raja dan Ratu Mama di Usia 2–3 Tahun. Buku ini begitu banyak memberi penyadaran pada saya bahwa perilaku ‘menyebalkan’ dan memancing naik darah ini ternyata indikator bahwa mereka sedang menambah keahlian. Di kala senyap, saya berpikir dan sering mengingatkan diri sendiri, justru hal ini harus muncul pada setiap anak, termasuk anak-anakku, untuk memastikan bahwa mereka menghargai dirinya. Kelak inilah yang menjadi modal kepercayaan diri di masa dewasanya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *