Mengapa Harus Berteriak Bag3

Sebab, berteriak memerlukan tenaga yang lebih banyak daripada dengan tidak berteriak. Biasanya yang diteriakan hanya beberapa kata saja, bukan kalimat panjang. “Jadi, berteriak tak sama dengan berbicara memakai kosakata lengkap dengan melibatkan kemampuan berpikir anak,” terang Woelan. Berteriak bukanlah cara berkomunikasi yang baik sebab anak perlu berbicara dengan runtut untuk menjelaskan sesuatu yang terjadi atau yang sedang ada di pikirkan.

Baca juga : Beasiswa s2 Jerman

Karena orangtua yang paling tahu mengapa anak berteriak, maka orangtua pula yang perlu menggali penyebabnya untuk membantu anak menyelesaikan hal tersebut. Misal, bila anak selalu berteriak saat minta tolong, kita perlu menjelaskan kepada anak cara meminta tolong yang benar. Pertama-tama, untuk meminta tolong anak harus memerhatikan bahwa orang yang akan dimintai tolong tersebut jaraknya dekat dan dapat memerhatikan dirinya.

Jika tidak, ia harus mendekati orang tersebut agar mendapatkan perhatiannya. Anak juga harus paham, orang dewasa yang tak memerhatikan mereka, belum tentu mereka tidak sayang kepada mereka, namun mungkin tengah mengerjakan sesuatu yang memerlukan konsentrasi. Karenanya, tentu anak boleh saja menerima bantuan orang, namun perlu mendapatkan perhatiannya terlebih dahulu. Antara lain dengan cara mendekati, bukan berteriak-teriak. Semoga, si batita kini tak lagi berteriak-teriak, ya, Ma.

Tidak Selalu Tanda Adhd

Perilaku berteriak memang sering ditunjukkan oleh anak yang menderita Attentien deficit Hyperactivity disorder (ADHD) atau Attention deficit disorder (ADD). Namun, berteriak bukanlah satu-satunya gejala yang menandakan ADHD/ ADD. Gangguan perkembangan ini menyebabkan peningkatan aktivitas motorik pada anak yang menyandangnyah muncul aktivitas yang tidak lazim dan cenderung berlebihan. Jadi, tak hanya suka teriak.

“Sikap berteriak ini berhubungan dengan kesulitan anak ADHD/ADD mengendalikan impulsivitas yang ada pada dirinya, seperti ketika dirinya tidak mendapatkan apa yang diinginkan, anak dengan ADHD/ADD akan langsung berteriak dan menunjukkan kemarahan,” ujar Woelan. Pemeriksaan lebih lanjut, dengan dokter atau psikolog, dibutuhkan untuk melihat ada/ tidaknya kaitan antara perilaku berteriak anak dengan gejala ADHD/ADD. Woelan menegaskan, “usia dan kemunculan gejala lainnya akan sangat menentukan penegakan diagnosis ini, sehingga kita tidak bisa gegabah menentukannya.”

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *