Gaya Asuh Orangtua Fondasi Bagi Karakter Anak

“Tak akan pernah ada orangtua yang bisa memberikan pola asuh sempurna kepada anaknya, pasti ada plus minusnya.” (Gita Gutawa). Seperti kata Gita Gutawa, benarkah tidak ada orangtua yang bisa menerapkan pola pengasuhan dengan sempurna?

Baca juga : Kerja di Jerman

Padahal, cara kita membesarkan anak akan sangat memengaruhi pembentukan karakternya; apakah akan tumbuh menjadi pribadi penuh percaya diri ataukah minder, manja ataukah tangguh, dan egois ataukah empati. Mungkin yang dimaksud olehnya, pola asuh bukanlah juklak yang bisa langsung diterapkan dan berhasil, melainkan proses coba-coba yang mungkin saja salah pada awalnya. Dari sekian banyak cara orangtua mengasuh anak, ternyata ada 4 pola yang bisa kita kenali, yaitu otoriter, cuek (neglectful), permisif, dan demokratis (disebut juga autoritatif).

Otoriter identik dengan pola asuh yang kaku, permisif berarti serba membolehkan, neglectful meng abaikan, dan demokratis adalah pola asuh “tengah-tengah”. Mengapa digolongkan seperti itu? Simak penuturan Mama Atiek berikut. Ia mengakui selama ini pola asuh yang diterapkan pada anak tunggalnya, Amel, tidaklah bijaksana. “Sebabnya, buat saya Amel adalah kado terindah dari Tuhan yang kami tunggu selama 10 tahun setelah pernikahan. Apa pun yang Amel inginkan, kami berikan.

Hal-hal kecil seperti mengambilkan minum pun, saya lakukan. Kini Amel berusia 14 tahun, sudah remaja. Saya bisa melihat dampak gaya asuh yang saya dan suami telah terapkan. Amel tumbuh menjadi remaja yang suka bergantung kepada orang lain, mau menang sendiri, egois, jadinya banyak temannya yang menjauh darinya. Maksud kami hanya ingin membahagiakan putri semata wayang, akantetapi tak disangka, justru akhirnya Amel tumbuh menjadi anak yang tak bisa mandiri yang sering sekali merepotkan saya dan suami.”

Kisah Mama Atiek dan suaminya tadi bisa dibilang mewakili gaya pengasuhan permisif. Seperti diakui Mama Atiek, anaknya cenderung memiliki sikap disiplin yang rendah, kemandirian yang lemah, dan mudah teralihkan. “Orangtua yang suka membolehkan akan menjadikan anak tumbuh tanpa tahu adanya aturan. Ketika harus berjuang sendiri, anak akan mengalami kebingungan, sehingga keputusannya kerap berubah-ubah, berkesan plinplan.

Sumber : https://maxfieldreview.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *