Category Archives: Parenting

Gaya Asuh Orangtua Fondasi Bagi Karakter Anak

“Tak akan pernah ada orangtua yang bisa memberikan pola asuh sempurna kepada anaknya, pasti ada plus minusnya.” (Gita Gutawa). Seperti kata Gita Gutawa, benarkah tidak ada orangtua yang bisa menerapkan pola pengasuhan dengan sempurna?

Baca juga : Kerja di Jerman

Padahal, cara kita membesarkan anak akan sangat memengaruhi pembentukan karakternya; apakah akan tumbuh menjadi pribadi penuh percaya diri ataukah minder, manja ataukah tangguh, dan egois ataukah empati. Mungkin yang dimaksud olehnya, pola asuh bukanlah juklak yang bisa langsung diterapkan dan berhasil, melainkan proses coba-coba yang mungkin saja salah pada awalnya. Dari sekian banyak cara orangtua mengasuh anak, ternyata ada 4 pola yang bisa kita kenali, yaitu otoriter, cuek (neglectful), permisif, dan demokratis (disebut juga autoritatif).

Otoriter identik dengan pola asuh yang kaku, permisif berarti serba membolehkan, neglectful meng abaikan, dan demokratis adalah pola asuh “tengah-tengah”. Mengapa digolongkan seperti itu? Simak penuturan Mama Atiek berikut. Ia mengakui selama ini pola asuh yang diterapkan pada anak tunggalnya, Amel, tidaklah bijaksana. “Sebabnya, buat saya Amel adalah kado terindah dari Tuhan yang kami tunggu selama 10 tahun setelah pernikahan. Apa pun yang Amel inginkan, kami berikan.

Hal-hal kecil seperti mengambilkan minum pun, saya lakukan. Kini Amel berusia 14 tahun, sudah remaja. Saya bisa melihat dampak gaya asuh yang saya dan suami telah terapkan. Amel tumbuh menjadi remaja yang suka bergantung kepada orang lain, mau menang sendiri, egois, jadinya banyak temannya yang menjauh darinya. Maksud kami hanya ingin membahagiakan putri semata wayang, akantetapi tak disangka, justru akhirnya Amel tumbuh menjadi anak yang tak bisa mandiri yang sering sekali merepotkan saya dan suami.”

Kisah Mama Atiek dan suaminya tadi bisa dibilang mewakili gaya pengasuhan permisif. Seperti diakui Mama Atiek, anaknya cenderung memiliki sikap disiplin yang rendah, kemandirian yang lemah, dan mudah teralihkan. “Orangtua yang suka membolehkan akan menjadikan anak tumbuh tanpa tahu adanya aturan. Ketika harus berjuang sendiri, anak akan mengalami kebingungan, sehingga keputusannya kerap berubah-ubah, berkesan plinplan.

Sumber : https://maxfieldreview.com/

Banyak Cara Rayakan Kehamilan Bag4

Soal hidangan pada saat acara hanya camilan ringan, seperti kue-kue, pasta, dan minuman bebas soda. Tetap Perhatikan Kehamilan Merayakan kehamilan tentu sah-sah saja, karena berita baik seyogianya memang disebarkan kepada kerabat dan teman-teman.

Baca juga : Kerja di Jerman

“Asalkan Mama secara fisik sehat dan perkembangan kandungan baik, menjalani semua upacara dan perayaan itu, tentu diperbolehkan secara medis. Namun perlu diingat, perayaan, di luar doa-doa atau pengajian, hanya kebiasaan saja. Artinya bila kondisi ibu dan atau janin tidak baik, maka tidak perlu dilakukan. Lebih baik, sebelum merencanakan acara-acara tersebut, konsultasikan kepada dokter kandungan apakah si ibu boleh melakukan,” saran dr. Judi Januadi Endjun, SpOG. Dipl. Ultrasound, pengasuh rubrik Tanya Jawab Ginekologi.

Ya, memang patut diakui terkadang melelahkan men jalani upacara tradisional. Karena rangkaiannya panjang dan memakan waktu. Desy Syamsoedin yang berasal dari Bandung mengaku sudah memangkas sebagian acara 7 bulanan adat Sunda agar dirinya tidak kelelahan. “Itu pun sudah tiga jam sendiri. Sebagian besar saya lakukan sambil duduk meskipun harusnya berdiri seperti ganti kain 7 kali.”

Masih menurut dokter Judi, ada beberapa kondisi ibu hamil yang sebaiknya tidak mengikuti upacara yang melelahkan, seperti: tekanan darahnya >= 140/90 mmHg karena berisiko preeklamsia; menderita kencing manis; penyakit jantung; asma yang sering kambuh; si ibu hamil mempunyai alergi, terutama alergi cuaca panas/dingin, debu dan seafood; plasenta previa (posisi plasenta tidak normal); kehamilan kembar; ketuban sedikit; dan masalah kehamilan lainnya.

“Ada lagi, jika ibu hamil tidak ingin melakukannya, ini juga tidak dapat dipaksa. Jadi semua bergantung pada ibu kesepakatan keluarga,” jelas dokter Judi. Itu tadi dari sisi kesehatan Mama. Kalau dari segi janin, Mama harus hati-hati melakukan aktivitas panjang dan melelahkan. Terutama kalau pertumbuhan janin terhambat atau janin kecil, ada kelainan bawaan, janin terlilit tali pusat, dan ada abnormalitas denyut jantung. Hal ini dialami Auliana Frila. Awalnya ia ingin menyelenggarakan upacara pengajian di usia kandungan 4 bulan. “Orangtua dan mertua sudah mempersiapkan acara pengajian.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Pindah Dokter, Benarkah Sulit? Bag3

Lalu, ayat 2 berbunyi: rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat 1 harus disimpan dan dijaga kerahasiaannya oleh dokter atau dokter gigi dan pimpinan sarana pelayanan kesehatan. Hak pasien atas isi rekam medis ini juga ditegaskan dalam Pasal 52 UU Praktik Kedokteran butir e bahwa pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak mendapatkan isi rekam medis.

Baca juga : toefl ibt jakarta

Aturan mengenai isi rekam medis diatur lebih khusus dalam Pasal 12 Ayat 2 dan 3 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis. Pasal ini mengatakan, isi rekam medis merupakan milik pasien yang dibuat dalam bentuk ringkasan rekam medis. Dalam Ayat 4 Permenkes yang sama disebutkan pula, ringkasan rekam medis dapat diberikan, dicatat, atau di-copy oleh pasien atau orang yang diberi kuasa atau atas persetujuan tertulis pasien atau keluarga pasien, orang yang diberi kuasa oleh pasien atau keluarga pasien, dan orang yang mendapat persetujuan tertulis dari pasien atau keluarga pasien.

Jadi, dari sederet aturan di atas, bisa disimpulkan bahwa Mama boleh dan berhak tahu isi rekam medis yang dibuat oleh dokter. Mama juga boleh meng-copy dan mencatatnya, serta mendapatkan ringkasannya. Sedangkan rekam medis yang asli adalah milik dokter atau instansi layanan kesehatan tempat Mama memeriksakan diri, yang harus disimpan baik-baik dan dijaga kerahasiaannya. Kalau, misalnya, Mama terlalu lelah atau berhalangan meminta isi rekam medis, Mama boleh mewakilkannya kepada keluarga atau orang lain yang Mama beri kuasa atau persetujuan tertulis.

Namun, tentang keluarga yang mana yang berhak mewakili Mama meminta rekam medis, tidak dijabarkan dalam aturanaturan di atas. Untuk amannya, Mama bisa mengacu pada UU Praktik Kedokteran dalam Pasal 45 Ayat 1. Pada prinsipnya, yang berhak memberikan persetujuan atau penolakan tindakan medis adalah Mama sendiri. Namun, apabila Mama berada di bawah pengampuan alias berhalangan (under curatele), maka persetujuan atau penolakan tindakan medis dapat diberikan oleh keluarga terdekat, antara lain suami/ istri, ayah/ibu kandung, anak-anak kandung atau saudara-saudara kandung.

Sumber : https://pascal-edu.com/

Fakta Tentang Minuman Bersoda Bag2

Kemudian, karena kandungan utamanya soft drink adalah kalori sedang unsur gizi lainnya tidak ada, minuman ini bisa berisiko memengaruhi pada berat badan anak. Nah, jika anak kegemukan ditambah pola makannya buruk, untuk mengatasi masalah berat badan bisa menjadi lebih sulit. Akibatnya, kegemukan ini dapat menetap hingga ia dewasa. Bagi anak perempuan, obesitas bisa jadi memicu ia mengalami menstruasi lebih awal/dini.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Efek lainnya dari kegemukan ialah anak-anak akan menjadi cenderung lebih malas atau lambat. Ia lebih memilih aktivitas ringan dan mudah lantaran tubuhnya sudah kegemukan. Persoalan ini lebih sering dialami pada waktu usia remaja. Kelak saat dewasa, justru problem kesehatan yang akan lebih menonjol. Adapun masalah kegemukan yang berlanjut ini dapat berisiko terjadi penyumbatan pembuluh darah. Ujung-ujungnya bisa mengakibatkan terkena serangan jantung koroner dan stroke pada usia dewasa. Ini menjadi sebuah masalah yang perlu dikhawatirkan bersama, apalagi bila minum soft drink telah menjadi kebiasaan.

Bukan hanya perkara kegemukan atau obesitas, beberapa pihak menilai minuman bersoda dapat menimbulkan osteoporosis karena adanya penggunaan asam fosfat yang terkandung di dalamnya. Dikatakan, soft drink bisa menimbulkan ketidakseimbangan rasio normal kadar kalsium dan fosfat dalam tubuh. Sebagai informasi, dalam satu kaleng minuman bersoda ukuran 240 ml terkandung sekitar 41 mg fosfat.

Nah, sebenarnya, dalam beberapa jenis bahan makanan yang kita konsumsi juga terkandung fosfat. Maka bila anak mengonsumsi soft drink secara rutin, berisiko menyebabkan kadar fosfat dalam tubuh menjadi tinggi. Akibatnya terjadi ketidakseimbangan rasio normal antara kadar kalsium dan fosfat didalam tubuh. Dampak selanjutnya, ketidakseimbangan tersebut menimbulkan penye rapan kalsium tak optimal dan berujung pada masalah osteoporosis.

BIJAK MENYIKAPI Tentunya Mama Papa perlu bijak melihat fenomena ini. Sebenarnya, sepanjang mengonsumsi minuman bersoda ini tidak menjadi kebiasaan setiap hari, maka tidak masalah. Tetapi akan lebih baik lagi bila kita dapat menyediakan bagi anak minuman yang tak hanya nikmat menyegarkan, tapi juga mengandung gizi seperti susu atau orange juice. Asal Mama Papa tahu, orange juice mengandung vitamin C hingga 50 mg. Ini bisa memenuhi kebutuhan harian anak yang sekitar 45 mg per hari.

Sumber : https://pascal-edu.com/

Mengapa Harus Berteriak Bag3

Sebab, berteriak memerlukan tenaga yang lebih banyak daripada dengan tidak berteriak. Biasanya yang diteriakan hanya beberapa kata saja, bukan kalimat panjang. “Jadi, berteriak tak sama dengan berbicara memakai kosakata lengkap dengan melibatkan kemampuan berpikir anak,” terang Woelan. Berteriak bukanlah cara berkomunikasi yang baik sebab anak perlu berbicara dengan runtut untuk menjelaskan sesuatu yang terjadi atau yang sedang ada di pikirkan.

Baca juga : Beasiswa s2 Jerman

Karena orangtua yang paling tahu mengapa anak berteriak, maka orangtua pula yang perlu menggali penyebabnya untuk membantu anak menyelesaikan hal tersebut. Misal, bila anak selalu berteriak saat minta tolong, kita perlu menjelaskan kepada anak cara meminta tolong yang benar. Pertama-tama, untuk meminta tolong anak harus memerhatikan bahwa orang yang akan dimintai tolong tersebut jaraknya dekat dan dapat memerhatikan dirinya.

Jika tidak, ia harus mendekati orang tersebut agar mendapatkan perhatiannya. Anak juga harus paham, orang dewasa yang tak memerhatikan mereka, belum tentu mereka tidak sayang kepada mereka, namun mungkin tengah mengerjakan sesuatu yang memerlukan konsentrasi. Karenanya, tentu anak boleh saja menerima bantuan orang, namun perlu mendapatkan perhatiannya terlebih dahulu. Antara lain dengan cara mendekati, bukan berteriak-teriak. Semoga, si batita kini tak lagi berteriak-teriak, ya, Ma.

Tidak Selalu Tanda Adhd

Perilaku berteriak memang sering ditunjukkan oleh anak yang menderita Attentien deficit Hyperactivity disorder (ADHD) atau Attention deficit disorder (ADD). Namun, berteriak bukanlah satu-satunya gejala yang menandakan ADHD/ ADD. Gangguan perkembangan ini menyebabkan peningkatan aktivitas motorik pada anak yang menyandangnyah muncul aktivitas yang tidak lazim dan cenderung berlebihan. Jadi, tak hanya suka teriak.

“Sikap berteriak ini berhubungan dengan kesulitan anak ADHD/ADD mengendalikan impulsivitas yang ada pada dirinya, seperti ketika dirinya tidak mendapatkan apa yang diinginkan, anak dengan ADHD/ADD akan langsung berteriak dan menunjukkan kemarahan,” ujar Woelan. Pemeriksaan lebih lanjut, dengan dokter atau psikolog, dibutuhkan untuk melihat ada/ tidaknya kaitan antara perilaku berteriak anak dengan gejala ADHD/ADD. Woelan menegaskan, “usia dan kemunculan gejala lainnya akan sangat menentukan penegakan diagnosis ini, sehingga kita tidak bisa gegabah menentukannya.”

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Keberhasilan Jadi “Obat” Kegagalan Bag2

Kesuksesan dan kegagalan menghadapi momen-momen pen ting dan berharga diterimanya dengan ikhlas dan bahagia. Bagi Della, menyusui adalah momen pa ling berkesan saat ia menjadi seorang ibu karena ada persepsi kuat yang tertanam bahwa ibu merupakan “sumber kehidupan” bagi anak di tahun-tahun pertama.

“ lowongan kerja di Jerman untuk lulusan SMA dengan program ausbildung di Jermansat-jakarta

“Anak yang baru saja lepas dari rahim ibu, ketergantungannya akan kehadiran, kedekatan, dan kelekatan fi siknya denganku sangat kuat. Menyusui adalah cara paling efektif untuk mengetahui bahwa seorang anak merespons kehidupan. Aku bisa tahu, mereka masih bernapas, mengonsumsi asupan, dan bergerak karena ada isapan yang ‘kuat’ sehingga meyakinkan diriku bahwa mereka optimis untuk hidup,” paparnya.

Namun, ia pun pernah sempat membuatnya merasa “capek” dan “tak berharga” menjadi ibu. Menurutnya, hal yang paling sulit diterima para mama adalah ketika anak sudah menjadi lebih besar, bukan bayi lagi, terutama usia 2–3 tahun. Pada usia ini, menurut pengamatan Della, anak-anak mulai “banyak ulah” karena merasa serbabisa. Baru saja rasanya mereka bergantung penuh pada kita, kali ini mereka mulai merasa “tidak butuh” ibunya.

Apa yang kita pilihkan dan berikan “ditolak” mentah-mentah, padahal awalnya mereka menikmati begitu saja tanpa protes yang berarti. “Saya akui, hal ini sempat membuat saya frustrasi dan marah karena mereka tampil lebih agresif dan menampilkan ekspresi ‘menyebalkan’. Tanpa disadari kita jadi selalu naik darah dan lupa bahwa mereka hanya makhluk kecil yang sedang ‘menguji coba’ keterampilanketerampilan sosi al yang baru saja dikuasai lewat proses meniru.

Beruntung ada ilmu pengetahuan tentang pengasuhan anak di usia dini yang dikemas dalam buku Si Raja dan Ratu Mama di Usia 2–3 Tahun. Buku ini begitu banyak memberi penyadaran pada saya bahwa perilaku ‘menyebalkan’ dan memancing naik darah ini ternyata indikator bahwa mereka sedang menambah keahlian. Di kala senyap, saya berpikir dan sering mengingatkan diri sendiri, justru hal ini harus muncul pada setiap anak, termasuk anak-anakku, untuk memastikan bahwa mereka menghargai dirinya. Kelak inilah yang menjadi modal kepercayaan diri di masa dewasanya.”

Keberhasilan Jadi “Obat” Kegagalan

Semakin mama merasa gagal, hampir dipastikan bahwa tekanan yang dirasakan juga besar. Lebih baik, enjoy saja Ma! Apakah Mama juga pu- nya cerita tersendiri akan pe rasaan gagal sebagai seorang ibu? Kabar baiknya Ma, pe rasaan pernah gagal mengasuh si kecil, ternyata dialami oleh ibu mana pun.

“ tempat terbaik kursus bahasa Jerman di Jakarta dengan biaya murah “ sat-jakarta.com

Namun menurut psikolog Viera Adella, MPsi, harap diwaspadai, ketika rasa gagal itu menjadi terlalu dalam dan semakin dihayati hampir dipastikan tekanan yang dirasakan Mama juga semakin besar. Penyebab rasa gagal yang berlebihan, lanjut psikolog yang akrab disapa Della ini, bisa dilihat dari dua faktor. Pertama, bisa karena jauh di dalam dirinya (internal), Mama punya kadar kecemas an yang tinggi (tipe pribadi pencemas, pemasang target tinggi, atau perfeksionis).

Kedua, karena faktor di luar diri Mama (eksternal). Misal, adanya tuntutan ideal dan terlalu tinggi dari pihak-pihak sekitar (orangtua, mertua, lingkungan tempat tinggal), dan sebagainya. Untuk mengatasi kecemasan yang berasal dari faktor dari dalam diri, saran Della, sebaiknya Mama mengikuti program manajemen stres dengan didampingi oleh profesional ataupun bidang-bidang khusus penye lenggara program relaksasi seperti, yoga center, spa, dan sebagainya.

Jika stres disebabkan oleh faktor eksternal, Mama bisa melakukan diskusi dengan pihak-pihak terkait demi mendapatkan pertolongan/bimbingan. Carilah figur yang enak diajak berdiskusi, dan janganlah malu membuka semua kesulitan yang ada. Jadikan hari-hari Mama bersemangat untuk menguji coba atau menerapkan saran-saran praktis mereka, kemudian ukur dan laporkan perkembangannya.

“Menyenangkan ketika bisa mendapatkan pujian dari orang-orang tersebut karena mereka yang semula ‘meragukan’ kemampuan kita, pada akhirnya mengakui keberhasilan kita meski prosesnya bertahap. Satu hal yang tidak boleh ditinggalkan, tetaplah berdoa dan mohon petunjuk Tuhan karena anak merupakan ‘titipan Tuhan’ sehingga yakinlah bahwa jika kita berikhtiar dan tawakal, maka akan dibukakan jalan.”

Gagal & Sukses

Tak melulu menasihati atau memberikan konsultasi kepada orang lain saja, se bagai ibu, Della pun sempat mengalami seribu kesuksesan dan seribu kegagalan. Della bercerita, di masa-masa awalnya menjadi ibu, ia juga menemui berbagai kendala dan tantangan Ya, samalah seperti halnya dengan mamamama lainnya.

Lomba Foto & Video Untuk Balita

Setelah sukses dalam jangka waktu tiga tahun berturut-turut, PT PZ Cussons Indonesia kembali menyelenggarakan Lomba Cussons Bintang Kecil Season 4 (CBK Season 4). Ini artinya PT PZ Cussons Indonesia sebagai perusahaan yang bergerak di bidang produk perawatan bayi dan anak memiliki komitmen untuk terus tumbuh dan berkembang bersama anak Indonesia dengan menyediakan media yang tepat bagi para orangtua yang ingin mengekspresikan kecintaan mereka terhadap buah hatinya dengan mengikuti kontes foto dan video yang diadakan oleh Pihak Cussons dan tahun ini mengusung tema“Tumbuh Dengan Cinta”.

Baca juga : Kursus Bahasa Jepang di Jakarta Selatan

Setelah mengumumkan para pemenang mingguan di Bandung beberapa waktu lalu, kini CBK Season 4 giliran menyambangi Yogyakarta. Bertempat di Mall Ambarukmo Plaza, CBK Season 4 mengumumkan kepada publik pemenang mingguan untuk peserta dari Yogyakarta (22/11). Acara yang meriah dan seru ini, juga diisi kegiatan lomba mewarnai serta lomba foto dan video balita bagi anak-anak balita kota Yogyakarta yang datang ke Mall Ambarukmo Plaza. Cicilia Elisabeth Tenges, Brand Manager IMEX Baby & Kids PT PZ Cussons Indonesia, menyebutkan ada dua pemenang mingguan pada putaran ini, antara lain si kecil Yola Quinza Assyifa (4) dan Aquilla Asya Khairunisa (3). Mereka berdua adalah peserta dari Yogyakarta.

“Jumlah peserta kontes dari tahun ke tahun cenderung meningkat, termasuk yang dari Yogyakarta. Semoga para pemenang dari Yogyakarta ini bisa lolos di tahap berikutnya dan terus menuju tahap grand fi nal. Sedangkan bagi para ayah dan bunda yang hendak mengikuti acara ini, masih terbuka kesempatan karena lomba masih terbuka hingga 10 Januari 2016,” kata Cicilia yang dalam kesempatan ini juga bertindak sebagai wakil brand Cussons untuk menyerahkan hadiah dan bingkisan untuk para pemenang mingguan tersebut.

Lomba foto dan video ini dibagi menjadi tiga kategori yaitu Bayi (0-1 tahun), Batita (1-3 tahun), Balita (3–6 tahun). Untuk setiap kategori lomba, tiga pemenang utama akan mendapatkan tabungan pendidikan masing-masing senilai Rp60 juta, tiga pemenang kedua masing masing Rp30 juta, tiga pemenang ketiga masing masing Rp15 juta. Selain itu, masih ada 216 pemenang bulanan, 180 pemenang mingguan, dan 2.000 pengirim pertama. Cussons Bintang Kecil Season 4 ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap tumbuh kembang anak-anak Indonesia dan memotivasi para orangtua untuk merawat, mendidik, dan menjaga anak-anaknya agar mereka “Tumbuh Dengan Cinta”.

Sumber : https://eduvita.org/

 

Bermain Peran Agar Cerdas Emosi Bag2

Nilai plus anak mengikuti kegiatan ini adalah melatih keberanian dan memupuk rasa percaya diri, serta membantu ia memahami perasaan orang lain melalui peran yang dimainkannya. Pertanyaannya, apakah mungkin role play dilakukan di rumah? Sangat mungkin! Bahkan, bermain peran bisa menjadi salah satu aktivitas harian di rumah ketika anak tak ingin bermain keluar rumah. Lewat kegiatan ini, anak berakting dan menampilkan pengalaman yang pernah ia lihat atau yang menarik perhatiannya.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

Anak bereksperimen dalam membuat keputusan tentang bagaimana seharusnya tokoh yang ia perankan berperilaku dan mempraktikkan keterampilan sosialnya. Bermain peran mendorong anak untuk mereka ulang beragam pengalaman dari apa yang selama ini ia lihat, dengar, rasakan, sentuh, dan alami. Sebetulnya, tanpa kita stimulasi lebih jauh, periode prasekolah memang sedang masanya anak bermain peran.

Anak sendiri terdorong un tuk mewujudkan apa yang ia bayangkan , melalui mainan-ma inan yang ia miliki. Kadang ia juga akan meminta kita ikut serta terlibat dalam imajinasinya. “Ayah jadi monster, aku jadi Bima-X!” atau “Ma, di situ ada kebakaran, ayo kita padamkan sama-sama!” mungkin sering terucap dari mulut mungilnya. Yang perlu kita lakukan adalah ikut terlibat aktif di dalamnya, sehingga anak merasa mendapat dukungan dari kita untuk terus mengasah imajinasinya.

Mengembangkan Berbagai Keterampilan

Bermain peran mungkin terlihat sebagai aktivitas yang sangat sederhana, tetapi anak belajar banyak hal darinya, seperti memakai pakaian dan bagaimana bekerja sama serta berbagi dengan orang lain. Beberapa cara yang bisa kita lakukan dalam mendorong anak bermain peran di rumah adalah: ? Berikan anak sebuah ruang atau pojok di rumah untuk bermain peran. Tempatkan beberapa mainan yang bisa menjadi properti bermain peran.

Contoh, masak-masakan, peralatan dokter-dokteran, lego, dan lainnya. Jika punya tenda mainan, kita pun bisa memasangnya atau manfaatkan furnitur seperti sofa atau meja makan yang diberi selembar kain lebar sehingga mirip tenda. ? Tak perlu membelikan anak versi mini dari peralatan sungguhan. Biarkan ia berkreasi dengan barang-barang yang ada di rumah. Mungkin saja anak menumpuk beberapa lego dan mengatakan itu sebuah saxophone atau malah bisa jadi gitar. Juga bagaimana mobil-mobilan bisa menjadi “camilan” pura-pura yang kita pesan saat anak bertindak sebagai empunya restoran.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Janin Mulai Bergerak, Senangnya!

Di trimester ini, saat kondisi mual muntah mulai berkurang, tak hanya Mama yang menjadi lebih lelu asa untuk bergerak, janin pun mulai memberi “tanda kehidupan” dengan gerakan lembutnya. Inilah yang disebut dengan fase quickening, yaitu fase dimana Mama mulai bisa merasakan tonjokan maupun ten dangan janin secara halus, biasanya mulai dirasakan antara minggu ke-16 dan ke-20.

Baca juga : kursus bahasa Jerman di Jakarta

Agar pengalaman pertama ini makin menyenangkan, ada beberapa hal yang bisa Mama lakukan untuk memberi respons pada buah hati kesayangan: • Belai lembut perut. Bisa Mama lakukan saat janin berge rak atau untuk merangsang perge rakan janin. “Sentuhan adalah bahasa pertama bayi. Bahkan, sebelum mereka lahir, menyentuh lembut perut saat hamil pun bisa menjadi pijatan pertama bayi dari luar rahim, penting untuk mem bangun ikat an antara orang tua dan bayi,T ungkap $lison Duff , pendiri dan direktur Calmababy.

• Ajak janin bicara. Di minggu ke-18, indra pende ngaran janin berkembang semakin baik. Kadang, janin bisa tersentak kaget bila mendengar suara keras dari luar. Tandanya, Mama Papa sudah bisa mengajaknya bicara. Biarkan ia mengenal Mama lewat sapaan pagi, siang, sore, dan malam. Ajak Papa untuk mulai membacakan dongeng sebelum tidur agar ia juga mengenal suara Papa. Belum merasakan gerakan janin hingga minggu ke-20? Waktu terbaik merasakan gerakan janin ialah di pagi hari sekitar pukul 7-9 atau malam hari sekitar pukul 9-10.

Sebab, di saatsaat itulah aktivitas Mama berkurang. Bila Mama terlalu banyak bergerak, perge rakan janin menjadi kurang terasa. Penyebab lainnya, bisa saja lapisan perut Mama cukup tebal, sehingga menjadi kurang peka terhadap tonjokan atau tendangan kecil. Namun, untuk memastikan bahwa janin dalam kondisi sehat, ada baiknya Mama berkonsultasi pada dokter kandungan untuk melihat aktivitas janin dalam rahim.

Cara Aman Menjaga Kesehatan Dan Kebersihan Miss V ? Hindari pakaian dalam yang ketat dan bahan yang tidak menyerap keringat. ? Sering ganti pakaian dalam minimal 2x sehari. ? Cuci organ intim dengan air bersih dan keringkan dengan tisu cukup ditepuk-tepuk di bagian luar atau kain bersih. ? Hindari pemakaian deodoran pada organ intim.